Pages

Site Info

Sabtu, 06 Agustus 2011

Menegakkan Kembali Negara Khilafah: Dengan Metode Rasulullah Saw

Sejak Inggris dan negara-negara Barat meruntuhkan negara Khilafah pada tanggal 3 Maret 1924, umat tidak pernah lagi merasakan kebahagiaan barang satu hari pun. Sejak itu hingga kini, umat menghadapi berbagai masalah seperti keterpecah-belahan, pendudukan negeri-negeri mereka oleh para penjajah, keterpurukan ekonomi dan sosial, dan lain-lain.

Siapa saja yang menjadikan Rasul sebagai contoh teladan, akan dapat melihat bagaimana Rasulullah Saw beserta kelompoknya dari para sahabatnya berjuang melawan seluruh kebatilan dan menghadapi segala rintangan dalam rangka meninggikan agama Allah SWT di muka bumi dengan mendirikan negara Islam di Madinah.

Siapapun yang membaca sejarah perjuangan Rasulullah Saw dan ingin mengikuti langkah-langkah beliau tidak akan mempersoalkan 13 tahun lamanya beliau berjuang, tetapi bagaimana beliau dengan partai politiknya yang beranggotakan para sahabat beliau berhasil mendirikan negara Islam. Metode inilah yang juga diadopsi oleh Hizbut Tahrir.

FFORMULASI HUBUNGAN AGAMA DAN NEGARA: PENDEKATAN SYAR’I


        Belakangan ini tuntutan penerapan syariat Islam secara formal oleh negara semakin menggejala. Hizbut Tahrir, misalnya, menegaskan secara terbuka: “Umat Islam rindu negara menerapkan syariat Islam.” Dalam sidang tahunan MPR beberapa minggu lalu massa Hizbut Tahrir melakukan pawai akbar menuntut penerapan syariat Islam secara formal oleh negara. Diyakini bahwa tanpa penerapan syariat, Islam tereduksi hanya menjadi masalah ritual yang bersifat individual, seperti masalah salat, puasa, penghormatan kepada orang lain, dan lain sebagainya. Diyakini pula bahwa penerapan syariat Islam oleh negara dapat mengatasi berbagai persoalan sosial-ekonomi yang semakin  semakin kompleks.
Tuntutan penerapan syariat Islam nampak bersifat ideologis, bukan hanya pelampiasan ketidakpuasan atau frustrasi akibat kesulitan ekonomi, seperti dituduhkan Hamid Basyaib, yang menyebutkan, gejala fundamentalisme Islam sudah menjadi rebel without cause seperti fundamentalis-Kristen Amerika atau kaum skinhead di Negeri Paman Sam (Islamlib.com).
Tuntutan yang bersifat ideologis itu mengakibatkan “kegerahan” pihak yang anti “formalisasi syariah Islam” seperti nampak dalam diskusi-diskusi yang dilakukan para penyokong gagasan Islam liberal. Makalah ini akan mendiskusikan argumentasi-argumentasi keberatan atas penerapan syaraiat Islam, bentuk hubungan Islam dan negara, serta implikasi penerapan syariat Islam bagi tujuan-tujuan kemanusiaan.

Anak Yang Bijak.

Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera
membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar
penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk
menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin.

Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah
pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin.
Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada
anaknya, "Bagaimana perjalanan tadi?" "Sungguh luar biasa, Pa."
"Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?"
tanya sang ayah. "Iya, Pa," jawabnya. "Jadi, apa yang dapat
kamu pelajari dari perjalanan ini?" tanya ayahnya lagi.


Si anak menjawab, "Saya melihat kanyataan bahwa kita mempunyai
seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor.

Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke
tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil
yang tak terhingga panjangnya.

Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan
mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi
taman mereka.

Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan
milik mereka seluas horison.

Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka
mempunyai tanah sejauh mata memandang.

Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita
tetapi mereka melayani diri mereka sendiri.


Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka
menanam sendiri.


Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan
mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka.


Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa.
Kemudian si anak menambahkan, "Terima kasih, Pa, akhirnya aku
tahu betapa miskinnya diri kita."

Terlalu sering kita melupakan apa yang kita miliki dan hanya
berkonsentrasi terhadap apa yang tidak kita miliki. Kadang
kekurangan yang dimiliki seseorang merupakan anugerah bagi
orang lain.


Semua berdasar pada perspektif setiap pribadi. Pikirkanlah apa
yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan atas
anugerah yang telah disediakan oleh-Nya bagi kita, daripada
kuatir untuk meminta lebih lagi.

Muslimah Berkarier, Mungkinkah? Oleh: Hari Moekti

Di Roma, pada suatu seminar yang diadakan gereja pada abad pertengahan, membahas suatu permasalahan krusial; hakikat wanita. Ada beberapa pertanyaan yang ingin dijawab pada diskusi tersebut. Apakah nyawa wanita sama dengan nyawa pria? Ataukah ia hanya memiliki nyawa seperti nyawa hewan, anjing dan musang? Di penghujung acara sebagai konklusi disebutkan bahwa wanita itu tidak memiliki nyawa sama sekali, dikarenakan ia tidak akan dibangkitkan pada kehidupan yang kedua kalinya (Emansipasi; Adakah Dalam Islam? Abd. Rahman al Baghdadi, GIP).
            Kaum wanita boleh saja tersinggung dengan keputusan seminar tersebut, tapi siapa yang peduli? Kaum pria pada masa itu di Eropa adalah penguasa tunggal, termasuk berdiri mengangkangi wanita. Orang-orang Eropa itu tidak tahu atau tidak mau tahu, bahwa Islam telah turun dengan seperangkat aturan yang menempatkan wanita setara dengan pria dan sesuai dengan kodrat kewanitaannya. Islam pun memuliakan wanita dan membebaskan wanita dari persepsi negatif tradisi jahiliyah yang sudah kepalang mengasumsikan melahirkan anak perempuan adalah suatu aib besar.

STRATEGI PEMUDA ISLAM DI MILENIUM KETIGA

Pendahuluan

Islam adalah sebuah sistem kehidupan yang unik, sistem Ilahi yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.   Sebagai realitas sejarah, Islam yang mula pertama diperkenalkan oleh Rasulullah saw. di kota Mekkah dan kemudian mendapatkan basis dukungan yang sangat kuat di kota Yatsrib (Madinah Al Munawwarah) itu telah berhasil tampil sebagai ideologi dan sistem kehidupan baru di dunia, sekaligus menggantikan sistem kehidupan jahiliyyah yang dianut oleh bangsa Arab Jahiliyyah.  Juga Islam menggantikan sistem kehidupan yang diadopsi dua negara adidaya waktu itu, Rumawi dan Persia.  Dalam perkembangan selanjutnya Islam menjadi sistem kehidupan yang dianut oleh hampir seluruh bangsa di dunia selama berabad-abad. Peradaban Islam maupun iptek yang dikembangkan oleh kaum muslimin menjadi pedoman sebagian besar umat manusia.  Bahkan telah mempengaruhi dan mengilhami kebangkitan (renaissance) Eropa, sekalipun mereka tidak memeluk Islam.  (Kenapa orang-orang Eropa yang bangkit lantaran keterpengaruhan mereka oleh Islam dan kemajuan kaum muslimin waktu itu tidak mengganti agama mereka dengan masuk Islam?  Ini merupakan rahasia Allah SWT yang bisa kita pahami dari firmanNya dalam QS. Yunus 99:“Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya…”). 

MENJAWAB TUDUHAN MIRING TERHADAP SYARI’AT ISLAM

Segala puji bagi Alloh, Tuhan Pencipta bumi, langit dan isinya, Tuhan Maha mengatur alam, manusia dan kehidupan. Sholatan wa salaman atas Nabi Muhammad, saw. Kepada shahabatnya, dan pengikut jejak langkah da’wahnya. (Makalah ini  saya tulis tidak menggunakan pendekatan metode ilmiah namun dengan pendekatan analisis(Jurnalism aproach), untuk lebih memudahkan pemahaman para pembaca)
        Tuduhan miring tentang Syari’at Islam yang datang dari berbagai kalangan  kalangan kafirin, munafiqiin, zalimiin maupun manusia yang ditokohkan dalam kelompoknya dengan predikat kyai haji, ulama, atau cendikiawan, itu adalah merupakan sunnatuloh yang telah terjadi semenjak dimulainya perjuangan Islam oleh Rosululloh, saw. Hingga sekarang dan akan terjadi di masa yang akan datang. Hal itu dimaksudkan agar jelas dan nyata antara yang haq dan bathil, yang halal dan haram, yang iman dan syirik, yang muslim dan yang kafir.
       Ada orang yang mengatakan “Kalau Syari’at Islam ditegakkan di negeri ini, maka akan terjadi disintegrasi bangsa” itu sangatlah wajar bagi akal manusia yang berada pada alam jahiliyah, karena mereka belum memahami hukum wajibnya menegakkan Syari’ah Islam, baik secara aqidah maupun syri’ah.

Selasa, 10 Mei 2011

KARAKTER GENERASI CERDAS, GENERASI PEMIMPIN


Jika ada persoalan yang terlalu sulit bagiku, aku pergi ke masjid dan berdoa,
memohon kepada Yang Maha Pencipta agar pintu yang telah tertutup bagiku dibukakan
dan apa yang tampaknya sulit menjadi sederhana. Biasanya, saat malam tiba,
aku kembali ke rumah, menghidupkan lampu dan menenggelamkan diri
dalam bacaan dan tulisan….”

(Ibnu Sina dalam Hoodbhoy, 1996: 193)

Inilah gambaran karakter generasi cerdas yang merupakan produk pendidikan masa kejayaan khilafah Islam. Di usia sepuluh tahun, Ibnu Sina telah menghapal Al-Qur’an dengan sempurna, dan di usia 17 tahun dia telah menjadi seorang dokter yang mapan. Karya utamanya, Al-Qanun menjadi teks standar dalam bidang kedokteran sampai lahirnya kedokteran modern. Minatnya menjangkau bidang filsafat dan logika, selain bidang keddokteran. Dedikasinya terhadap Islam tidak pernah padam.
            Ibnu Sina bukan satu-satunya ilmuan besar yang lahir pada masa kejayaan Islam. Menurut catatan para ahli sejarah, selama periode Abasiyyah terdapat lebih dari 500 orang ilmuan besar sekaliner Ibnu Sina yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu di dunia Barat modern, di mana karya-karyanya menjadi rujukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
            Sistem pendidikan Islam memang melahirkan generasi yang cerdas, generasi para ilmuan yang memiliki kearifan tersendiri, generasi yang memadukan antara kemampuan sains di satu pihak dengan tsaqofah Islam di pihak lain, generasi yang ber-syaksiyyah Islamiah seperi nampak dalam keseharian Ibnu Sina, dan generasi pemimpin yang berlandaskan aqidah Islam. Sistem pendidikan Islam benar-benar telah melahirkan umat yang terbaik (khoero ummah), sebagaimana firman Allah:
                       
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah … (QS.Ali Imran [3]:110).